
Jakarta, KMBali1.Com — Liga Mahasiswa Indonesia Timur (LIMIT Indonesia) kembali akan menggelar aksi besar-besaran. Dalam aksi yang disebut sebagai jilid ketiga, LIMIT akan melakukan aksi protes di kantor pusat PT. Sumbawa Timur Mining (STM) di Sequis Tower, Jl. Jenderal Sudirman No.Kav. 71 29th Fl, Senayan, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, pada Selasa, 24 Juni 2025 Besok.

Koordinator Lapangan LIMIT, Ajunnarfid, menyatakan bahwa aksi besok adalah bentuk tekanan langsung dari masyarakat dan Mahasiswa terhadap pihak perusahaan yang hingga kini dinilai tidak menunjukkan iktikad baik dalam merespons berbagai tuntutan rakyat dan mahasiswa.
“Besok kami akan kepung kantor PT STM. Ini bukan lagi sekadar simbolik, ini bentuk tekanan nyata dari rakyat Dompu yang lelah dibohongi,” tegas Ajun dalam keterangannya.
Dalam aksi tersebut, LIMIT akan kembali menyuarakan tiga tuntutan utama: pencabutan izin tambang PT STM, penghentian seluruh aktivitas eksplorasi di Kecamatan Hu’u, dan penolakan mutlak terhadap perpanjangan izin tambang. Mahasiswa menilai aktivitas eksplorasi perusahaan telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, melampaui batas waktu delapan tahun yang ditetapkan dalam UU Nomor 3 Tahun 2020.
Selain itu, LIMIT juga mengungkapkan sejumlah masalah seperti dampak lingkungan, ketimpangan sosial, serta minimnya transparansi dan akuntabilitas PT STM. Mereka menuding bahwa perusahaan lebih mengutamakan kepentingan modal daripada kesejahteraan masyarakat lokal.
Ajun juga mempertanyakan laporan CSR PT. STM tahun 2023 yang menyebutkan telah dinikmati oleh lebih dari 239.000 penerima manfaat, dengan total anggaran Rp23,4 miliar. LIMIT bersama sejumlah anggota DPRD Dompu menilai angka tersebut tidak masuk akal dan kemungkinan besar hanya menjadi bagian dari kamuflase administratif belaka.
Sebelumnya, dalam dua aksi berturut-turut pada 16 dan 19 Juni di Kementerian ESDM, LIMIT telah menyampaikan tuntutan yang sama. Pada aksi kedua, mereka sempat diterima oleh Staf Humas Kementerian, namun tidak mendapatkan respons konkret.
Sementara itu, PT. STM dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada 17 Juni lalu menanggapi gerakan mahasiswa dengan menyebut bahwa “kebanyakan isu-isu ini diprovokatori oleh pihak-pihak yang mungkin memiliki atensi tersendiri terhadap keberadaan investasi PT STM di wilayah proyek Hu’u.”
Perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak akan menanggapi hal-hal negatif di luar kontrol dan memilih fokus pada komitmen internal untuk “bertumbuh dan memajukan kualitas SDM masyarakat lingkar tambang.”
Pernyataan itu mendapat tanggapan keras dari LIMIT yang menilai PT. STM justru sedang menghindari pertanggungjawaban publik atas segala persoalan yang muncul. Menurut Ajun, alasan perusahaan menunjukkan sikap tidak bertanggung jawab dan mengabaikan realitas yang dirasakan masyarakat Dompu.
“Kalau mereka anggap ini hanya provokasi, maka besok kami tunjukkan bahwa ini adalah suara rakyat. Suara yang tidak bisa dibungkam dengan bahasa korporasi,” ujar Ajun.
Aksi besok diperkirakan akan berlangsung lebih masif dan intens. LIMIT mengaku telah mengonsolidasikan jaringan mahasiswa dan masyarakat sipil dari berbagai elemen untuk memperluas tekanan terhadap perusahaan dan pemerintah.“Kami tidak akan berhenti sampai izin PT STM dicabut. Kalau aksi sebelumnya hanya peringatan, maka besok adalah perlawanan,” tutup Ajun.[KM02]