Produk 1

KMBali1.Com – Membaca media online beberapa hari terakhir publik disajikan dengan informasi seputar masalah dugaan perselingkuhan. Walau informasi yang disampaikan baru sebatas dugaan dan belum tentu kebenarannya namun memantik reaksi yang beragam dari publik.

Apa yang disampaikan dalam media online itu baru berupa informasi adanya dugaan perselingkuhan. Bukan merupakan hal yang benar adanya sehingga untuk kejelasannya perlu pembuktian lebih lanjut.

Perselingkuhan adalah sebuah fenomena sosial yang merupakan bagian dari pola hubungan yang spesial antara individu berlainan jenis yang secara sosial telah memiliki pasangan yang sah.

Dalam hal ini pelaku selingkuh melibatkan orang yang sudah bersuami atau beristri dan bisa juga salah satu dari pasangan berselingkuh tersebut sudah beristri atau bersuami.

Dari berita yang disajikan media online dimaksud masyarakat memberikan reaksi keras dengan berita dugaan perselingkuhan yang muncul. Respon publik dalam menanggapi informasi adanya dugaan selingkuh yang muncul rata-rata sangat menyayangkannya.

Kalau sekiranya benar di masyarakat ada praktek perselingkuhan, satu pertanyaan kritis dapat diajukan kemudian menjadi bahan renungan dan juga dijawab bersama, mengapa sih orang suka berselingkuh padahal secara sosial mereka sudah memiliki pasangan yang sah?

Dari berbagai literatur psikologi diperoleh penjelasan bahwa pemicu orang berbuat selingkuh itu bersifat kompleks. Pemicu orang berbuat selingkuh itu tidak dari satu persoalan saja namun dari banyak faktor yang saling terkait.

Interaksi sosial yang hambar (tidak sehat dan tidak harmonis) dengan pasangan dalam keluarga membuat pasangan mencari ruang interaksi yang hangat dan harmonis dengan sosok lain diluar pasangan di luar rumah.

Dari interaksi yang hambar dan dangkal (tidak sehat dan tidak harmonis dalam keluarga) memunculkan kebutuhan emosional ingin dihargai, disayangi, dicintai dan merasa gayung bersambut melakukan perselingkuhan saat ruang yang kosong itu didapatkan dari sosok lain diluar pasangan sah.

Dari interaksi yang tidak sehat dengan pasangan sah tersebut memunculkan juga keadaan seperti kurangnya komunikasi (komunikasi tidak berkualitas, kurang sentuhan dan kedekatan fisik) secara hangat yang membuat satu dengan lainnya memendam masalah yang memunculkan keinginan mencari tempat untuk didengar. Karena ruang kosong yang dibutuhkan itu dipenuhi sosok lain diluar pasangan sah itulah perselingkuhan terjadi.

Fenomena perselingkuhan yang terjadi juga bisa disebabkan oleh faktor personal. Harga diri yang rendah memicu seseorang membutuhkan validasi (pengakuan) dari orang lain untuk merasa diinginkan atau dipentingkan. Karena pasangan selingkuh bisa memberikan validasi yang diinginkan dan dalam pola hubungan yang intim itulah kemudian yang memicu terjadinya perselingkuhan.

Kurangnya komitmen dari pasangan terkait kehidupan rumah tangga yang harus selalu dipupuk, dijaga dan dipelihara bersama untuk tidak dinodai atau dilukai kehormatannya juga bisa mendorong seseorang melakukan perselingkuhan.

Tidak adanya komitmen yang baik dan kuat dari pasangan suami istri terkait perlunya menjaga kehormatan rumah tangga membuat selingkuh tidak dianggap sebagai persoalan besar dan komitmen yang tidak kuat ini memberi ruang yang rentan seseorang melakukan selingkuh

Problem lainnya yang juga ikut menjadi pemicu orang melakukan selingkuh adalah faktor situasi dan lingkungan. Lingkungan kerja, pertemanan, atau medsos yang mempermudah ketemu dengan orang baru memberi ruang besar melakukan perselingkuhan.

Oleh: Firmansyah, S.Psi., M.MKes.
Pengamat Sosial dan Tumbuh Kembang Anak Remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *