KMBali1.Com – Kemeriahan panggung perayaan Hut Dompu bukan lagi barang asing di mata warganya. Hut Dompu ibarat Etalase tempat memajang kekayaan budaya, pesona wisata, bahkan keakraban sosial yang selama ini terjaga sejak zaman dahulu kala.
Jalinan keakraban ini begitu kokoh, tidak hanya pada saat musim pameran di momen Hut Dompu ke 211 ini. Sekali lagi, Hut Dompu hanyalah Etalase. Warga Dompu dengan kesukuannya telah dipagari oleh Prasasti Nggahi Rawi Pahu.
Semboyan ini terpatri betul dalam diri masing – masing pribadi. Setidaknya, idealnya begitu. Secara singkat, dalam pandangan saya, semboyan Nggahi Rawi Pahu ibarat rangkuman atau induk dari segala pengajaran para tetua dahulu. Dia ibarat Alfatihah dalam Alquran. Dia ibarat Pancasila bagi sebuah Negara, dimana dari sana lah lahir kearifan – kearifan turunannya.
Nggahi Rawi Pahu mengajarkan orang dompu berkomunikasi yang santun, mengatur lisan agar tidak menyakiti, berkata jujur, menyuarakan kebenaran. Itulah sebagian kecil makna yang diajarkan NGGAHI (Berkata) kepada masyarakat ini. Masih banyak makna arif lain yang terkandung didalamnya bergantung pada kedalaman kita menggali esensi dari kata itu.
Rawi (Berbuat), terminologi ini mengajarkan orang dompu bahwa berkata sopan saja tidak cukup, namun perlu dibarengi dengan Akhlak dan tingkah laku. Rawi harus selalu selaras dengan apa yang di Nggahi. Karena percuma mulut berkata manis, namun tangan justru menikam. Percuma mulut mengikrarkan Laa Ilaha Illallah jika perbuatan justru masih menyembah kepada selainNya. Dan percuma mendeklarasikan persatuan bila salah satu ternyata berkhianat. Itulah orang Dompu.
Yang paling menarik bagi saya, adalah kata terakhir dari semboyan para tetua kita yaitu Pahu (Berhasil). Kenapa menarik, karena kata terakhir ini seakan menjadi pembatas, semacam sebuah kewajiban yang harus dipenuhi oleh semua orang dompu. Dia seakan menjadi target kemana arah panah pemburu tertuju.
Pahu bisa diterjemahkan sebagai suatu cita – cita yang pasti tercapai apabila kita benar – benar menerapkan Nggahi dan Rawi. Artinya, suatu hasil (Pahu) akan tercapai bergantung sungguh pada bagaimana kita mengelola Nggahi dan Rawi. Jika kita berkata sopan lalu dibarengi dengan akhlak yang baik dan sopan pula, maka dengan sendirinya orang akan segan dan berlaku sopan pula pada kita. Itulah Pahu dari Nggahi dan Rawi kita tersebut.
Tidak hanya itu, Pahu juga bisa berarti suatu tuntutan. Ketika kita sudah mengikrarkan (Nggahi) sesuatu, maka kita dituntut untuk juga melakukan (Rawi) sesuai dengan yang sudah kita ikrarkan itu. Tuntutan itu tidak sampai disitu, apa yang kita lakukan itu – dengan sungguh – sungguh dan sistematis – harus bisa dibuktikan dengan hasil (Pahu) yang maksimal.
Jadi, sulit menemukan orang dompu bermental penghianat, menikam dari belakang, lawan lengah diterjang, kasak – kusuk mencari Kambing Hitam. Hehehe.
Contoh yang sangat liner dengan keadaan saat ini adalah, ketika Bupati dan Wakil Bupati sudah berikrar untuk bersama, bersatu, berikrar untuk mewujudkan Dompu Maju, maka pasangan Bupati dan Wakil Bupati dengan sendirinya dituntut untuk melakukan semua usaha optimal, sistematis, bekerja sebagai tim untuk benar – benar mewujudkan Dompu Maju yang dijanjikan.
Warga dompu meyakini, bahwa dalam hati dan jiwa pasangan Bupati Bambang Firdaus dan Wakil Bupati Syirajuddin juga tertanam prasasti yang sama dengan warga dompu lainnya yakni Nggahi Rawi Pahu.
Namun warga Dompu menyadari, bahwa setiap jalan politik yang dilewati kedua Pemimpin kita ini tidak selalu mulus. Selalu ada tantangan, ada onak dan duri. Nggahi Rawi Pahu bisa menjadi rujukan, menjadi titik temu menuju kesepahaman bersama. Nggahi Rawi Pahu boleh jadi adalah alasan bahwa dalam niat tulus keduanya, hasrat pribadi tidak lebih tinggi nilainya dibanding Kapahu Dompu Maju yang dijanjikan.
Disamping keyakinan akan hal itu, saya sebagai Warga Dompu sekiranya perlu mengingatkan, bahwa NGGAHI RAWI PAHU tidak hanya sekedar kesadaran kolektif kita sebagai Warga Dompu. Namun NGGAHI RAWI PAHU juga bisa menjadi Api amarah.
Dia bisa saja membakar setiap jiwa yang menggugat komitmen dan konsistensi Pemerintah (BBF – DJ) hari ini. Jiwa itu adalah jiwa orang dompu sendiri. NGGAHI RAWI PAHU akan menggugat sejauh mana sudah Pemerintah Daerah berupaya mewujudkan (Kapahu) Dompu Maju.
Ataukah kedua Pemimpin kita hari ini lebih sibuk memperjuangkan kepentingan kelompok masing – masing. Saling membenci hanya karena sentimen pribadi, atau sibuk saling menghalau demi mendapatkan porsi – porsi jumbo dari kekuasaan.
Dahulu, 1400 tahun yang lalu, telah ada seorang pemimpin yang sama – sama kita cintai. Beliau populer karena keadilan yang dibawanya, kedamaian bagi warganya, dan kezuhudannya dari godaan materi yang ditawarkan posisinya sebagi penguasa saat itu. Beliau adalah baginda Sayidina Muhammad SAW. Maka boleh jadi, kewajiban beliau sebagai pemimpin warga Madinah dulu, juga melekat kepada Pasangan BBF dan DJ saat ini.
Maka, pada momen Sakral Hut Dompu ke 211 ini sebagai warga dompu, saya ingin mengingatkan kita pada sebuah ayat AlQuran;
“Sungguh, telah ada dalam diri Rasullullah itu tauladan yang baik bagimu”, (Al Ahzab ayat 21).
Jika tak sanggup meneladaninya secara utuh maka tidak ada salahnya bila cukup berusaha meneladaninya. Sehingga anda berdua benar – benar layak menyandang Gelar Kehormatan “Ma Kapahu Rawi”.***
*** Penulis Adalah Pimred KMBali1.Com
*** Sekretaris SMSI Kabupaten Dompu

