Ketika Seragam menciptakan Jarak Nol Antara Warga Sipil dan Polisi
OLEH: FAUZI AKBAR

KMBali1.com _ Pagi itu, Senin, 15 Desember 2025, Alun – Alun Kota Dompu terlihat ramai oleh pengunjung. Beberapa dari mereka ada yang sekadar liwat berjalan kaki, dan ada pula yang duduk sambil menikmati jajanan khas kaki lima. Alun – alun yang biasa disebut Taman Kota bagi warga Dompu bukan hanya sekedar Taman. Ini adalah tempat bersantai bagi warga dari semua kalangan. Letaknya yang berada di dekat kompleks Kantor Bupati Dompu membuatnya menjadi tempat persinggahan mulai dari Pelajar, Mahasiswa, Pengusaha, Aktifis, Wartawan, hingga para Pejabat. Masing – masing asyik dengan urusannya. Ada yang berdiskusi sambil menyeruput kopi dengan temannya, ada pula yang bercanda santai sambil menikmati cemilan khas yang disajikan para pedagang Kaki Lima.
Namun, yang menarik perhatian saya adalah Farid. Rasanya terlalu egois kalau saya hanya menyebut dia sebagai teman saya. Bukan apa – apa, saya tidak tega mengecilkannya bila saya hanya mengklaim dia hanya sebagai sahabat saya. Lebih tepatnya dia adalah teman dan sahabat kami.
Di salah satu sudut Taman kota itu, Farid sedang asyik duduk bercengkerama dengan pengunjung lain. Diantara mereka ada yang aktifis, Wartawan, Pengusaha, dan sesekali ada pula tukang parkir yang ikut nimbung sambil menunggu pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di area taman kota itu.

Farid adalah sosok yang bersahabat. Saat berbincang dengannya, atau berdiskusi dengannya, sahabatnya bisa saja lupa waktu dan bahkan lupa bahwa dia adalah seorang Anggota Polisi dari Satuan Brimob. Memang, dengan pakaian layaknya pemuda umumnya, Kaos Oblong, Celana Jeans, dan Topi itu, orang yang pertama melihatnya tidak akan percaya bahwa dia Polisi. Harusnya, seragam dan senjata adalah dua hal yang membuat seorang di segani bahkan ditakuti. Namun semua itu seolah sirna ketika melihat dia duduk bersama teman – temannya.
Farid seperti melepaskan suatu zat kimia tertentu yang tak terlihat, sebagai sinyal bahwa dia hadir untuk menikmati Bahasa dari semua kalangan social yang ditemuainya itu. Ya, dia bukan hanya siap mendengarkan, “Menikmati” memang adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dia menerima candaan kasar dari seorang Preman, Kritik paling pedas untuk polisi dari kalangan wartawan dan aktifis – yang mungkin tidak siap didengar oleh Anggota sejawatnya yang lain. Hebatnya, dia pun ikut lebur dalam candaan serta kritikan – kritikan tersebut. Nah, dengan sikapnya ini, dia diterima sebagai sahabat, bukan sebagai Polisi. Namun dengan begitu, ia leluasa menjelaskan betapa beratnya menjadi seorang polisi, tentang resiko menjadi seorang polisi, dan tentang pilihan – pilihan sulit yang harus diputuskan seorang polisi ketika berada di lapangan.
Alih – alih merasa digurui, dinilai membela diri, warga yang mendengar justru seketika berubah persepsi, dan menjadi empati. “Saya tidak perlu melawan argumen mereka yang mengkritik polisi, itu hanya membuat hubungan saya jadi canggung. Bisa jadi yang mereka katakan adalah fenomena yang mereka lihat. Kepada mereka saya hanya mengungkapkan yang saya juga rasakan sebagai polisi agar mereka punya informasi lain sebagai pembanding. Akhirnya, persepsi mereka tentang polisi jadi berubah positif dengan sendirinya”, tuturnya.
Pernah suatu kali, sejumlah orang personil Brimob dengan seragam dan bersenjata lengkap menggunakan mobil truknya menghampiri dan menyapa beberapa pengunjung yang sedang duduk – duduk nongkrong di taman kota. Kebetulan, salah satu kerumunan pengunjung yang disapa adalah beberapa orang yang berprofesi sebagai jurnalis dan sebagian lagi adalah aktifis. Dengan ramah, bapak – bapak Brimob itu mengenalkan dirinya dan teman – temannya lalu menjelaskan maksud kedatangannya yakni berpatroli dan menyapa warga. Seorang wartawan kemudian berkata “kami ini temannya Bang Farid”, spontan saja semua kerumunan yang duduk itu tertawa bersama Pak Polisi itu. Lalu pak polisi itu mengatakan “Dia juga abang kami, pak. Dia itu baik, ramah sekali, kami ini banyak belajar dari dia. Kalau kami ini tingkatannya masih ingin menarik hati masyarakat. Tetapi dia tingkatannya sudah tinggi, pak. Dia itu menjadi satu dengan Masyarakat”, ujarnya. Semua pun kembali tertawa.
Darinya masyarakat belajar memahami Polisi dan tugasnya. Darinya pula seorang polisi bisa belajar bagaimana menjadi masyarakat. Belajar menghapus Jarak dengan masyarakat hingga Nol. Sehingga pada Akhirnya, tidak ada lagi kalimat “Polisi dan Masyarakat” tetapi “Polisi adalah Masyarakat” itu sendiri.(**)

