Dompu, kmbali1.com—Meningkatnya harga kebutuhan pokok di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil mulai memberi tekanan serius terhadap kehidupan rumah tangga. Situasi tersebut paling banyak dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang setiap hari harus berjibaku mengatur kebutuhan keluarga di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Dompu, Miftahul Su’adah menilai, tekanan ekonomi yang berlangsung berkepanjangan dapat berdampak langsung terhadap kondisi psikologis keluarga dan berpotensi memicu konflik rumah tangga apabila tidak dikelola dengan baik.

“Ibu rumah tangga hari ini menghadapi tekanan yang luar biasa. Harga kebutuhan meningkat, sementara penghasilan keluarga banyak yang tidak tetap. Dalam situasi seperti ini, perempuan sering menjadi pihak yang paling banyak memikul beban emosional karena harus memastikan keluarga tetap bertahan,” ujarnya via WhatsApp, Selasa (12/5).

Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan pokok bukan hanya berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat, tetapi juga memengaruhi ketahanan mental dalam keluarga. Beban pikiran akibat sulitnya memenuhi kebutuhan sehari-hari sering memicu stres, emosi yang tidak terkendali, hingga pertengkaran dalam rumah tangga.

DP3A Dompu mengingatkan bahwa tekanan ekonomi kerap menjadi salah satu faktor pemicu meningkatnya risiko kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dalam banyak kasus, perempuan dan anak menjadi pihak paling rentan ketika kondisi rumah tangga berada dalam tekanan.

“Ketika emosi tidak terkendali akibat tekanan ekonomi, maka perempuan dan anak sering menjadi korban pertama. Karena itu, pencegahan kekerasan harus dimulai dari penguatan ketahanan mental dan komunikasi dalam keluarga,” tegasnya.

Untuk mencegah terjadinya konflik dan kekerasan dalam rumah tangga, DP3A Kabupaten Dompu mengimbau masyarakat agar mulai memperkuat keharmonisan keluarga melalui sejumlah langkah sederhana namun penting.

Pertama, membangun komunikasi terbuka antara suami dan istri terkait kondisi ekonomi keluarga tanpa saling menyalahkan. Persoalan ekonomi, menurutnya, harus dihadapi bersama sebagai tanggung jawab keluarga.

Kedua, mengendalikan emosi dan stres di tengah tekanan hidup. Anggota keluarga diminta tidak mudah melampiaskan emosi kepada pasangan maupun anak, karena hal tersebut dapat memperburuk situasi dan memicu kekerasan.

Selain itu, keluarga juga diimbau mulai menyusun prioritas kebutuhan dengan membedakan antara kebutuhan utama dan keinginan. Pengelolaan keuangan yang sederhana dan disiplin dinilai mampu membantu mengurangi tekanan psikologis dalam rumah tangga.

DP3A juga menekankan pentingnya dukungan sosial dari lingkungan sekitar, termasuk peran PKK, kader perempuan, pemerintah desa, hingga masyarakat dalam membantu keluarga yang sedang menghadapi tekanan ekonomi.

Di sisi lain, perempuan juga didorong untuk terus mengembangkan aktivitas produktif melalui usaha kecil, ekonomi kreatif rumah tangga, dan pemanfaatan potensi lokal guna membantu menambah penghasilan keluarga secara mandiri.

Tak hanya itu, masyarakat diminta untuk tidak takut melapor apabila terjadi kekerasan terhadap perempuan dan anak. Negara, kata dia, hadir melalui layanan perlindungan dan pendampingan bagi korban kekerasan.

“Kondisi ekonomi yang sulit tidak boleh dijadikan alasan untuk terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. Kesulitan ekonomi seharusnya membuat keluarga semakin saling menguatkan, bukan saling melukai. Rumah harus menjadi tempat paling aman bagi perempuan dan anak, bukan tempat yang menimbulkan ketakutan,” pungkasnya. (Alon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *